Showing posts with label Hikmat. Show all posts
Showing posts with label Hikmat. Show all posts

14 September 2007

Fly Over The Uncertainty

Pernahkah Anda berpikir tentang masa depan Anda? Saya sendiri sering memikirkan masa depan saya. Saya punya cita-cita dan keinginan untuk masa depan saya nanti. Untuk itu saya juga sering memikirkan rencana-rencana untuk masa depan saya. Saya memikirkan semua itu karena saya ingin mendapatkan apa yang saya inginkan.

Dalam mendapatkan masa depan yang saya inginkan tersebut, saya menghadapi banyak ketidakpastian. Salah satu contohnya adalah, saya ingin memiliki usaha yang besar. Untuk mendapatkan keinginan itu saya menyusun rencana-rencana yang baik. Namun ternyata tidak mudah, saya tidak bisa memperkirakan secara pasti apa yang akan saya hadapi nanti. Apakah iklim perekonomian menunjang usaha saya? Atau apakah ada pesaing-pesaing yang muncul untuk menekan usaha saya? Atau adakah kemungkinan bencana alam dapat mengganggu usaha saya? Saya tidak tahu itu semua.

Namun diantara semua ketidakpastian tersebut, ada satu hal yang pasti. Hal itu adalah Yesus Kristus. Saya tahu bahwa dalam Dia, ada kepastian, janji-Nya pasti digenapi. Satu janji-Nya yang saya ingat bahwa Ia akan membuatku menjadi besar dan membuat anak cucuku nanti tidak akan meminta-minta. Aku menyerahkan semua kuatirku padaNya. Aku percaya Dia punya rancangan yang indah buat aku, rancangan masa depan yang penuh harapan. Aku mau melangkah bersama-sama dengan Dia, menentukan langkah dan rencana apa yang aku ambil dengan bantuan hikmat-Nya, serta mengandalkan Dia dalam setiap hal yang saya hadapi dalam kehidupan saya, termasuk dalam usaha saya. Saya tetap yakin dan percaya bahwa janji-Nya pasti terjadi dalam kehidupan saya. Terimakasih Tuhan Yesus :)

30 September 2006

Antara Hikmat dan Takut Akan Tuhan

Kalau kita membaca bagian awal-awal kitab amsal kita bisa menjumpai banyak sekali nasehat-nasehat mengenai betapa berharganya mendapatkan hikmat dan pengertian. Dikatakan bahwa berbahagia orang yang meperoleh hikmat… keuntungannya melebihi perak, hasilnya melebihi emas, lebih berharga dari pada permata, apapun yang kita inginkan tidak dapat menyamainya. Kedengarannya luar biasa bukan? Tapi bagaimana mendapatkannya? Menurut kitab amsal, ada satu hal yang sangat penting untuk mulai mendapatkan hikmat, yaitu takut akan Tuhan.

Akan tetapi, apa hubungannya antara takut akan Tuhan dengan mendapatkan hikmat?

Menurut saya, pertama-tama ketika kita takut akan Tuhan otomatis kita akan menjauhi larangan-larangannya dan dengan menjauhi larangan-larangan tersebut, kita akan terlinduingi dari hal-hal yang jahat dan kita akan diberkati. Dengan itu kita sudah melakukan tindakan yang berhikmat. Yang kedua, ketika kita takut akan Tuhan, kita ingin melakukan hal-hal yang menyenangkan dan memuliakan DIA. Ini adalah posisi hati yang benar untuk mulai belajar bagaimana untuk mendapatkan hikmat dan pengertian.

Sementara untuk memperoleh hikmat dan pengertian masih panjang jalannya, Takut akan Tuhan adalah awal untuk mendapatkannya. Tanpa takut akan Tuhan tidak akan ada hikmat dan pengertian yang sesungguhnya. So let’s start it dengan memiliki hati yang takut akan Tuhan.

17 June 2006

Hati-hati dalam Mendengar

Hampir semua dari kita pernah mendengar curhat dari orang lain. Entah itu dari sahabat kita atau orang yang dekat dengan kita. Apalagi kalo kita tipe pendengar yang baik, bisa-bisa bukan cuman sahabat aja, tapi semua orang kalo liat kita bawaannya pengen curhat aja!! hehe

Kebanyakan sih, curhat itu isinya keluhan, de el el..Well, pernah gak waktu kita mendengar curhat gitu, kita juga ikut terbawa-bawa? Maksudnya, kita juga jadi ikutan marah mendengar mereka yang disakiti oleh orang tertentu. Rasanya bisa ya, apalagi kalo curhatnya intensive gitu trus yang curhat itu orang yang kita sayang… wah, kalo dia kecewa, bisa-bisa kita juga kecewa.

Saya pernah mengalami hal seperti itu. Saya juga ikutan kecewa sama orang yang ‘katanya’ menyakiti sahabat saya itu. Saya berpikir bahwa dia memang seperti yang sahabat saya katakan. Perlakuan saya ke orang itupun akhirnya terpengaruh dengan pandangan saya. Padahal orang itu sama sekali tidak pernah menyakiti saya.

Suatu waktu, sahabat saya akhirnya baikan kembali dengan orang itu, dan berlaku seperti biasa lagi. Saya yang sudah kecewa terheran-heran. Akhirnya saya mengerti, bahwa sebenarnya saya tidak menjaga hati saya. Saya membiarkan diri saya ikut dalam kekecewaan orang lain, dan bertobat karenanya.

Sejak saat itu, saya memutuskan untuk hati-hati dalam mendengar. Jangan sampai saya terbawa-bawa dalam kekecewaan orang lain. Kalau seseorang kecewa, bawaannya memang akan menjelek-jelekkan orang lain padahal hal itu belum tentu seperti yang ceritakannya.

So, apakah itu berarti kita gak boleh mendengarkan curhat dari sahabat kita? tentu saja kita masih boleh! Bahkan mendengarkan itu penting sekali. Mendengarkan itu adalah sarana untuk mengerti orang lain, untuk membangun hubungan. Akan tetapi, jagalah hatimu kalau mendengarkan curhat. Jadilah netral, berpikirlah yang logis… J