Showing posts with label Rasa Aman. Show all posts
Showing posts with label Rasa Aman. Show all posts

10 July 2007

Vision Breaktrough

Before you begin a thing, remind yourself that difficulties and delays quite impossible to foresee are ahead. If you could see them clearly, naturally you could do a great deal to get rid of them but you can't. You can only see one thing clearly and that is your goal. Form a mental vision of that and cling to it through thick and thin.
Kathleen Norris

Saat kita menghadapi suatu tantangan, seringkali kita merasa takut untuk melangkah karena kita tidak mengetahui apa resiko dibalik langkah yang kita ambil. Kita punya kecenderungan untuk mencari hal yang pasti karena dalam hal yang pasti kita merasa aman. Ironisnya, dalam kenyataan sehari-hari, kita justru dihadapkan pada hal-hal yang tidak pasti. Saat kita ingin belajar bersepeda roda dua kita tidak tahu berapa kali kita akan jatuh, seberapa banyak luka yang terjadi saat kita jatuh, namun kita tahu kalau kita melewatinya, kita akan mampu bersepeda roda dua.

Hal ini juga terjadi pada kehidupan setiap kita. Kita tidak tau apa yang bakal terjadi dimasa yang akan datang, bahkan apa yang bakal terjadi nanti malam pun kita tidak tahu pasti, hanya bayangan kita saja. Yang kita tahu kita punya keinginan dan cita-cita, kita punya visi kedepan. Selain itu Tuhan juga punya rencana atas kehidupan setiap pribadi. Jadi yang bisa kita lakukan adalah tetap berpegang pada visi kita, dan tetap menyerahkan semuanya pada Tuhan. Tetap yakin bahwa dalam Tuhan kita aman, dan Tuhan membuat semuanya indah pada waktuNya. :)

13 November 2006

Cerita tentang seorang kakek, cucunya dan keledai yang baru dibeli

Seorang kakek dan seorang cucu baru saja membeli seeokor keledai. Dalam perjalanan pulang, si cucu menaiki keledai tersebut dan si kakek yang menarik keledai. Melihat itu, beberapa orang di jalan memberikan komentar, “cucu tidak tau diri, masa kakek tua di suruh menarik keledai”. Mendengar itu, maka si cucu turun dari keledai dan si kakek yang menaiki keledai dan mereka kemudian melanjutkan perjalanan mereka.

Dalam perjalanan, orang-orang mulai mengomentari mereka lagi, “kakek tidak tau diri, masa cucu yang masih kecil disuruh menarik keledai.” Bingung, mereka berdua memutuskan untuk menaiki keledai.

Akan tetapi kemudian mereka dikomentari lagi, “wah, kakek dan cucu tidak tau diri, keledai satu dinaiki dua orang.” Mendengar itu, mereka akhirnya turun dari keledai itu dan memutuskan untuk memikul keledai itu.

Melihat kakek dan cucu memikul keledai, orang-orang ramai mengomentari, “Wah bodoh sekali kakek dan cucu itu! masa keledai dipikul?.” Akhirnya kakek dan cucu itu benar-benar bingung dan meninggalkan keledai itu di tengah jalan dan pulang tanpa keledai yang baru mereka beli tersebut.

Cerita di atas adalah ilustrasi dari orang yang begitu peduli dengan apa kata orang. Segala sesuatu menjadi salah bahkan membuat mereka melakukan hal-hal yang merugikan diri mereka sendiri.

Begitu pula dengan kita. hal tersebut bisa saja terjadi kalau kita selalu menuruti apa kata orang. Ingin menyenangkan semua orang. Ada satu istilah yang pernah saya dengar untuk itu adalah “orang lain yang kenyang anda yang bayar tagihannya.”

Yang perlu kita fokuskan dalam hidup ini adalah menyenangkan hati Tuhan sehingga kita bisa merasa aman dengan apa yang kita lakukan, ya gak?

Btw, sulit loh menyenangkan hati semua orang hehe.. ..

09 November 2006

Senang liat orang susah, susah liat orang senang?

“Susah liat orang lain senang, senang liat orang lain susah”. “Tanya kenapa?”

Iklan rokok yang sempat saya liat di TV ini emang keliatannya lucu, tapi ya memang kenyataannya sering terjadi begitu. Sangat mudah untuk senang ketika orang lain susah dan senang melihat orang lain susah. Akan tetapi kalau bener itu terjadi di dalam diri kita, berarti ada yang salah.

Menurut saya hal ini mungkin saja terjadi karena kita tidak merasa aman dengan diri kita, kita selalu membandingkan diri kita dengan orang lain.

Ketika kita membandingkan diri dengan orang lain, kecenderungan hati kita adalah kita tidak senang ketika orang lain mendapatkan keberuntungan karena itu akan menyebabkan kita kelihatan lebih kecil dari dia, dan kalau dia mendapatkan musibah kita akan senang karena itu akan membuat dia kelihatan lebih kecil dari kita.

Kalau sudah begitu, kita tidak bisa memenuhi Firman Tuhan agar kita bersukacita bersama dengan orang yang bersukacita dan menangis bersama dengan orang yang menangis donk? (makanya merasa aman dengan diri sendiri itu penting sekali lo)

Itu salah satu jawaban saya setelah saya bertanya mengapa. =P Bagaimana dengan jawaban/pendapat saudara? :)