Showing posts with label Ilustrasi. Show all posts
Showing posts with label Ilustrasi. Show all posts

31 October 2009

Sebuah Ilustrasi tentang beban

Jam 7 malam.
Sudah cukup lama aku berkutat dengan pekerjaanku.
Aku bersiap-siap untuk meninggalkan kantor.
Dengan enggan kuangkat tas berat itu ke pundakku.
Beban yang menekan di pundakku terasa begitu mengganggu, tapi aku memang harus membawa tas ini.
Di perjalanan pulang, aku mengendarai sepeda motorku masih dengan konsentrasi pada tas yang membebani pundakku.
Seorang anak kecil menyeberang dengan sepedanya tanpa melihat ke kiri dan ke kanan. Huh, aku memaki dalam hati.
Kecil kecil sudah menyebalkan, gimana gedenya nanti.

Aku melanjutkan perjalanan masih dengan sejuta omelan dalam hati.
Ingin rasanya cepat sampai di rumah, supaya aku bisa beristirahat.
Suara klakson yang berbunyi nyaring mengagetkan aku dari lamunanku.
Kulirik spion dan kulihat seorang anak muda dengan mobil mewahnya membunyikan klakson dengan nada tak sabar.
Huh, kenapa sih dengan orang-orang ini?
Emangnya dia nggak lihat kalau jalanan emang lagi macet?
Emangnya dikira enak membawa tas seberat ini?

Ketika sampai di rumah, ternyata perasaan nyaman yang kuimpikan tak dapat kutemui. Suasana hiruk pikuk keluargaku terasa seperti
dentuman-dentuman keras di kepalaku.
Lagi-lagi aku memaki dalam hati.
Aku capek. Aku ingin istirahat. Berat sekali yang harus aku angkat.
Kenapa sih nggak ada yang mau mengerti?

Malam hari. Akhirnya aku memperoleh ketenangan.
Aku bisa tidur dan beristirahat. Tapi tas besar dan berat ini terasa mengganggu sekali. Aku tak bisa tidur.
Tapi aku tak bisa melepaskannya. Aku kesal.

"Bapa, kenapa sih berat sekali? Sungguh-sungguh sangat mengganggu.. . "
Aku mengeluh sambil meneteskan air mata.

"Mengapa engkau tidak meletakkan tas itu anakKu?"

"Tapi aku tak bisa Bapa"

"Kenapa?"

"Lihatlah, semua tas ini berlabelkan tanggung jawab.
Semua harus aku bawa setiap saat, aku tak bisa meletakkannya.
Tas hitam yang paling besar ini, lihat tulisan di depannya, PEKERJAAN.
Semua tanggung jawab pekerjaanku ada di dalamnya.
Lalu yang coklat ini, KELUARGA. Aku juga tak bisa meletakkannya.
Semuanya adalah bebanku.
Dan yang biru ini, PELAYANAN. Engkau tentu tak ingin aku
meletakkannya bukan?"
Aku berusaha menjelaskan.

Bapaku yang baik hanya tersenyum, lalu mendekatiku.
"Kemarilah, Aku ingin melihatnya."
Ia melihat tas hitam besar yang kuletakkan di pundakku.
"AnakKu, engkau dapat meletakkan tas ini.
Ini memang tanggung jawab pekerjaanmu. Dan engkau memang harus menanggungnya.

Namun saat engkau melangkah keluar dari kantor, engkau dapat meletakkan tas ini di samping meja kerjamu.
Tenanglah, tidak akan ada yang mengambilnya.
Lagi pula semua isinya adalah tanggung jawabmu bukan?
Percayalah, tak akan ada yang tertarik untuk mengambil tas ini, sehingga keesokan hari, saat engkau kembali ke kantor, pasti tas
ini akan tetap ada di sana , dimana engkau meletakkannya. Dan engkau dapat mengambilnya kembali dan melanjutkan tanggung jawabmu".

Ia tersenyum menunggu jawabanku.
"Benar Bapa, tapi aku tak dapat meletakkannya. Ia melekat terus di pundakku".

Ia menatapku dengan penuh kasih, lalu perlahan mengambil tas itu dari pundakku.
"Kemarilah anakKu. Di saat engkau tak dapat meletakkannya, Aku dapat membantumu untuk meletakkannya.

Dan esok, Aku pun dapat membantumu untuk mengenakannya kembali."
Ia meletakkan tas hitam itu di dekat tempat tidurku.

Rasanya pundakku lega sekali.
Tas paling berat yang selalu menekanku telah diambil.
Aku menggerak-gerakkan pundakku sambil tersenyum.
"Engkau benar Bapa, rasanya enak sekali. Ringan.
Besok aku akan lebih siap untuk melanjutkan pekerjaanku.
Esok, pasti tas itu tidak akan terasa terlalu berat lagi".

Aku menatap wajah Bapaku yang penuh kasih.
Sungguh indah senyum dan sinar mataNya.
Ia menatap tas coklat di pundakku.
"Lalu itu? engkau tidak ingin meletakkannya juga?"

"Bapa, aku tidak bisa. Ini adalah tanggung jawab KELUARGA.
Kemanapun aku pergi aku harus membawanya."

"AnakKu, Aku sungguh bahagia karena engkau memperhatikan setiap tanggung jawab yang kuberikan padamu mengenai keluargamu. Tapi
engkau pun tak boleh lupa, bahwa keluargamupun adalah milikKu. Dan aku memelihara setiap kepunyaanKu.

Engkau memang harus membawa tas itu bersamamu, tapi sesekali letakkanlah, agar engkau dapat bermain dengan bebas dengan
keponakanmu, bercanda dengan kakakmu, atau sekedar berbincang dan bercerita dengan orang tuamu.
Rasanya belakangan ini Aku jarang melihatmu melakukannya" .

Aku tertunduk malu.
Ia benar. Aku membawa tas ini kemana-mana, dan kulaksanakan setiap tanggung jawab untuk keluargaku,

tapi sepertinya ternyata tas ini menjadi jauh lebih berharga dari pada kehadiran keluargaku sendiri.

Sekali lagi Bapa mengambil tas dari pundakku.
"Mari anakKu, letakkanlah. Di saat engkau perlu, letakkanlah.
Karena engkau dapat yakin, walaupun engkau meletakkannya dan meluangkan waktu dengan keluargamu,

Akulah yang akan tetap menjagamu dan keluargamu".

Dan pundakku menjadi jauh lebih lega.
Kini hanya tinggal satu tas biru yang masih memberati pundakku.
"Bapa, tas yang satu ini sungguh-sungguh tak dapat kuletakkan.
Setiap saat setiap waktu aku harus membawanya.
Karena setiap detik kehidupanku adalah pelayananku untukMu.
Engkau tentu tak ingin aku meletakkannya bukan?"

"Hmm... benar juga".
Aku terkejut mendengar jawabanNya. Sepertinya agak tidak sesuai harapanku.
Ia telah membantuku meletakkan kedua tasku sebelumnya, dan sepertinya aku sungguh-sungguh berharap agar tas ini juga dapat
kulepaskan.

"Mari coba kulihat tas itu"
Ia melihat dan meraba tas biru yang masih melekat di pundakku.

"Anakku, sepertinya ada yang salah dengan tasmu ini. Kemarilah,
coba lepaskan".
Ia mengambil tas biruku.
"Anakku, engkau benar. Aku ingin agar engkau selalu melayaniKu
dalam setiap detik kehidupanmu. Dan percayalah, itu sungguh-sungguh
menyenangkan hatiKu.
Tapi sepertinya tasmu ini bahannya terlalu berat, sehingga
menekan pundakmu terlalu berat."

Kemudian Ia memberikan aku satu tas biru yang lain.
"Ini, pakailah tas ini sebagai gantinya. Ini merupakan tas dengan
bahan KASIH.
Jika engkau meletakkan semua pelayananmu di dalamnya, niscaya
engkau tidak akan terbebani dengan tasmu ini".

Aku menerima tas baruku dari tanganNya, lalu memindahkan semua isi
tas lamaku ke dalam tas berbahan KASIH itu.
Aku mencoba mengangkatnya. Ternyata Bapaku benar.
Tas itu kini terasa ringan dan sungguh nyaman di pundakku.

Aku memandangNya penuh kasih.
"Terima kasih Bapa. Aku sungguh mengasihiMu. Terima kasih untuk
pelajaranMu hari ini".

* * * * *

Pagi ini aku memulai hari dengan senyuman.
Istirahatku sudah cukup. Dan aku siap untuk menghadapi tantangan hari
ini.
Di perjalanan, aku masih tetap bertemu orang-orang yang
menyebalkan, namun tidak lagi memaki dalam hati, melainkan aku
berdoa untuk mereka.
Mungkin mereka juga masih selalu membawa tas mereka kemana-mana
atau mereka juga mengenakan tas dengan bahan yang salah. Banyak sekali.

Aku melihat ada yang membawa dua tas besar, tiga bahkan empat.
Tulisannya pun bermacam-macam, ada PEKERJAAN, KELUARGA, PELAYANAN,
KULIAH, SEKOLAH, BISNIS, dan masih banyak lagi.

Memang tanggung jawab adalah sesuatu yang harus kita pikul dan harus
kita
selesaikan.
Tapi kita pun harus tetap belajar untuk menempatkan di saat mana
kita harus mengangkat dan di saat mana kita harus meletakkan.
Dan aku terus belajar ...

* * * * *

Seseorang yang bijaksana pernah bertanya padaku:
"Mana yang lebih berat, mengangkat sebuah gelas dengan satu tangan
selama 1 jam penuh, atau mengangkat gelas tersebut selama 10 menit
lalu meletakkannya sejenak dan mengangkatnya kembali selama 10
menit dan demikian seterusnya sampai 1 jam?"

* * * * *

"Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat.
Aku akan memberi kelegaan kepadamu".
Matius 11:28

"Sebab itu, janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari
besok mempunyai kesusahannya sendiri.
Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari".
Matius 6:34

(dari notes seorang teman di facebook)

17 July 2007

Jangan Bunuh Bebeknya!

Pernah dengar cerita tentang seorang petani dan bebek bertelur emas? Rasanya hampir semua dari kita pernah mendengar cerita tentang seorang petani miskin yang menjadi kaya karena bebeknya tiba-tiba menghasilkan sebutir telur emas setiap harinya. Kisah ini berakhir menyedihan karena si petani membunuh si bebek karena ingin mendapatkan semua telur emas yang ada di dalam tubuh si bebek. Si bebek mati dan tidak ada sebutirpun telur emas di dalam tubuh mati si bebek.

Waktu kita mendengarkan cerita si petani dan bebek ini, kebanyakan dari kita berpikir bahwa si petani ini bodoh sekali. Rasanya tidak mungkin orang normal yang berpikiran sehat dapat melakukan hal yang bodoh seperti hal yang dilakukan si petani, jika benar-benar mereka punya bebek bertelur emas tentunya.

Akan tetapi, ketika saya menemukan kembali cerita ini dibuku Steven Covey tentang Tujuh Kebiasaan, saya tidak lagi berpikir demikian. Covey mengumpakankan si petani adalah kita dan bebek bertelur emas adalah semua asset kita yang bisa menghasilkan hal yang baik dalam kehidupan kita. Ada beberapa contoh yang bisa dipakai disini, misalnya, uang yang berperan sebagai modal usaha kita, alat transportasi yang kita miliki untuk menjalankan usaha kita atau bahkan bisa juga tubuh kita (masih banyak lagi contoh lain yang bisa kita pikirkan, yang menurut kita adalah hal penting dalam kehidupan kita)

Tentang uang dalam modal usaha kita, kita bisa saja membunuh si bebek dengan cara membelanjakan uang tersebut. Ketika uang sudah habis dibelanjakan untuk barang-barang konsumsi, tidak ada lagi bebek yang bisa menghasilkan telur emas. Tentang alat transportasi yang kita miliki. Misalnya kita memiliki mobil baru, kita menggunakanya dengan berlebih tanpa mengeluarkan biaya untuk perawatannya. Memang pada awalnya kedengaran menyenangkan, mobil baru, kemampuan bagus, tidak membutuhkan biaya untuk merawatnya, kita memakainya sesuka kita. kemudian beberapa tahun berlalu, mobilnya rusak, bebeknya mati karena ternyata setelahnya ongkos perbaikannya menjadi sangat mahal. Begitu juga dengan tubuh kita, pada waktu usia kita masih muda, kita jarang sakit, rasanya kita bisa melakukan apa saja. Kita tidak menjaganya dengan baik, kita menggunakannya secara berlebihan. Beberapa tahun kemudian, kita sudah mulai mengeluhkan banyak hal dan si bebek perlahan-lahan mati, kita tidak lagi produktif, tidak ada lagi telur emas yang bisa kita nikmati.

Ternyata kadang bisa saja tanpa kita sadari kita melakukan hal yang sama dengan si petani yang kita anggap bodoh. Kita membunuh si bebek yang menghasilkan telur emas bagi kita karena kita ingin semuanya serba cepat, menikmati semuanya sekarang.

02 June 2007

Teman Disaat Kesukaran

Kesukaran adalah saringan yang kita gunakan untuk menyaring kenalan kita. Mereka yang terlalu besar untuk lolos adalah sahabat kita.
(Dikutip dari buku God's Little Instruction Book on Friendship)

Seorang teman yang bersama kita saat dalam suasana sukacita mudah sekali ditemui. Namun seorang teman yang tetap bersama-sama kita walaupun keadaan sulit, itulah seorang sahabat yang setia. Buku ini memberikan contoh ilustrasi Alkitab saat raja Daud berada dalam pelariannya, ada seorang dari Gat yang bernama Itai yang mau menyertai raja Daud, hidup atau mati. Kisah ini tertulis pada kitab 2 Samuel 15:21.

13 November 2006

Cerita tentang seorang kakek, cucunya dan keledai yang baru dibeli

Seorang kakek dan seorang cucu baru saja membeli seeokor keledai. Dalam perjalanan pulang, si cucu menaiki keledai tersebut dan si kakek yang menarik keledai. Melihat itu, beberapa orang di jalan memberikan komentar, “cucu tidak tau diri, masa kakek tua di suruh menarik keledai”. Mendengar itu, maka si cucu turun dari keledai dan si kakek yang menaiki keledai dan mereka kemudian melanjutkan perjalanan mereka.

Dalam perjalanan, orang-orang mulai mengomentari mereka lagi, “kakek tidak tau diri, masa cucu yang masih kecil disuruh menarik keledai.” Bingung, mereka berdua memutuskan untuk menaiki keledai.

Akan tetapi kemudian mereka dikomentari lagi, “wah, kakek dan cucu tidak tau diri, keledai satu dinaiki dua orang.” Mendengar itu, mereka akhirnya turun dari keledai itu dan memutuskan untuk memikul keledai itu.

Melihat kakek dan cucu memikul keledai, orang-orang ramai mengomentari, “Wah bodoh sekali kakek dan cucu itu! masa keledai dipikul?.” Akhirnya kakek dan cucu itu benar-benar bingung dan meninggalkan keledai itu di tengah jalan dan pulang tanpa keledai yang baru mereka beli tersebut.

Cerita di atas adalah ilustrasi dari orang yang begitu peduli dengan apa kata orang. Segala sesuatu menjadi salah bahkan membuat mereka melakukan hal-hal yang merugikan diri mereka sendiri.

Begitu pula dengan kita. hal tersebut bisa saja terjadi kalau kita selalu menuruti apa kata orang. Ingin menyenangkan semua orang. Ada satu istilah yang pernah saya dengar untuk itu adalah “orang lain yang kenyang anda yang bayar tagihannya.”

Yang perlu kita fokuskan dalam hidup ini adalah menyenangkan hati Tuhan sehingga kita bisa merasa aman dengan apa yang kita lakukan, ya gak?

Btw, sulit loh menyenangkan hati semua orang hehe.. ..

23 May 2006

Damai Sejahtera

Seorang pengusaha pecinta lukisan menggelar lomba lukis. Tema dari lomba itu adalah melukis “damai sejahtera”. Puluhan kontestan datang dari berbagai kota untuk memenangkan lomba itu. Dalam waktu yang tidak cukup lama, kanvas-kanvas putih mulai dipenuhi dengan sapuan cat para pelukis. Hasilnya menimbulkan decak kagum orang-orang yang ingin menyaksikan lomba tersebut. Hampir semua pelukis melukis pemandangan indah, baik itu pegunungan, bukit-bukit, taman, suasana pedesaan maupun lautan teduh. Orang-orang yang melihat lukisan-lukisan tersebut mulai penasaran, kira-kira lukisan mana yang akan keluar sebagai pemenang karena bagi mereka hampir semua lukisan itu jika dilihat akan menimbulkan ketenangan bagi yang menikmatinya.

Ketika tiba waktunya untuk mengumumkan pemenangnya, sang pengusaha tanpa ragu langsung mengambil sebuah lukisan air terjun yang menderu dengan tampak di dekat air terjun itu seekor burung tertidur lelap di atas sebuah ranting kecil. Seraya tersenyum, pengusaha itu berkata, “Memang, semua lukisan yang lain tampak sangat indah dan menawan. Akan tetapi, damai sejahtera bukanlah tentang keindahan ataupun suatu keadaan tanpa masalah. Damai sejahtera adalah pikiran atau jiwa yang tenang walau di tengah-tengah "badai" yang menderu. Pelukis dari lukisan ini sudah menangkap apa yang saya maksud dengan damai sejahtera. Dan tanpa ragu, saya memutuskan bahwa dialah yang memenangkan perlombaan ini!”

“Damai sejahtara Allah, yang melampaui segala akal akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” Philipi 4:7

30 April 2006

Mengganggu saya II (ilustrasi)

Ketika saya baru saja post “mengganggu saya”, tiba-tiba saya mendapatkan ilustrasi tentang mengucap syukur melalui tindakan.

Saya mendapatkan ilustrasinya dari pengalaman saya sendiri. Hari ini saya belajar membuat bakmoi (salah satu tindakan saya untuk mengembangkan diri nih heheh…) untuk lunch bersama ortu. Saya tidak bisa memberikan komentar tentang bakmoi ini. Saya hampir tidak bisa makan karena menunggu reaksi papa dan mama saya yang makan bakmoi pertama buatan saya haha. Ternyata hampir habis ( tinggal jatah saya). Kekuatiran saya juga berlalu bersama dengan berlalunya bakmoi tersebut ke dalam perut mereka J. Saya senang sekali sebenarnya! Saya senang karena masakan saya dimakan. Coba saja misalnya bakmoi tadi hanya dipandangi mereka dengan kagum tapi tidak dimakan. Wah, walaupun mereka mengatakannya menarik tapi kalau tidak dihabiskan, saya pasti kecewa. Saya rasa Tuhan juga begitu. Dia pasti senang kalau apa yang Dia berikan kepada kita ternyata kita gunakan dengan baik. Semua talenta kita, semua yang bisa kita lakukan.