Showing posts with label Mengembangkan Diri. Show all posts
Showing posts with label Mengembangkan Diri. Show all posts

20 July 2007

Penyesalan Tak Pernah Datang Belakangan

Sering orang bilang bahwa penyesalan selalu datang belakangan saat segala sesuatu telah terjadi dan tak dapat diperbaiki lagi, kemudian hanya menjadi penyesalan yang tak berarti. Namun tidak menurut saya, jika seseorang telah melakukan segala sesuatunya dengan upaya terbaiknya, maka ia tak akan pernah menyesal walaupun mendapatkan hasil terburuk sekalipun, orang yang seperti inilah orang yang “kuat”, definisi kuat bukan berarti orang yang selalu berolahraga, orang yang berotot, dapat mengangkat beban, dan lainnya. Orang yang kuat ialah orang yang memiliki tekad terhadap visinya, semangat terhadap tujuannya, kemauan terhadap segala upayanya, dan bersyukur akan hasilnya, dan pantang menyerah, ia akan selalu tahu bahwa yang ia lakukan ialah yang terbaik bahkan saat mengetahui bahwa segala sesuatu berlangsung buruk, dia tahu bahwa dia telah melakukan dengan baik, satu-satunya penyesalan yang bisa ia rasakan ialah pada saat dia tidak melakukan sesuatu, pada saat ia tidak mencoba. Karena itulah saya katakan bahwa penyesalan tak pernah datang belakangan, penyesalan dapat kita rasakan sesaat setelah kita tahu bahwa sebenarnya kita bisa melakukan sesuatu tetapi kita tidak melakukannya, karena kita takut mencobanya, penyesalan datang di depan sebelum segala sesuatu terjadi, dan kita hanya dapat memandang kesempatan yang hilang begitu saja. Hanya orang lemah saja yang merasakan penyesalan belakangan, saat melakukan sesuatu tanpa tekad tehadap visinya, tanpa semangat terhadap tujuannya, tanpa kemauan terhadap segala upayanya dan hanya melakukan coba-coba saja terhadap apa yang harus dia lakukan yang seharusnya dia lakukan dengan sungguh-sungguh dan “kuat”.
Orang yang “kuat” tak pernah merasakan penyesalan belakangan.

17 July 2007

Jangan Bunuh Bebeknya!

Pernah dengar cerita tentang seorang petani dan bebek bertelur emas? Rasanya hampir semua dari kita pernah mendengar cerita tentang seorang petani miskin yang menjadi kaya karena bebeknya tiba-tiba menghasilkan sebutir telur emas setiap harinya. Kisah ini berakhir menyedihan karena si petani membunuh si bebek karena ingin mendapatkan semua telur emas yang ada di dalam tubuh si bebek. Si bebek mati dan tidak ada sebutirpun telur emas di dalam tubuh mati si bebek.

Waktu kita mendengarkan cerita si petani dan bebek ini, kebanyakan dari kita berpikir bahwa si petani ini bodoh sekali. Rasanya tidak mungkin orang normal yang berpikiran sehat dapat melakukan hal yang bodoh seperti hal yang dilakukan si petani, jika benar-benar mereka punya bebek bertelur emas tentunya.

Akan tetapi, ketika saya menemukan kembali cerita ini dibuku Steven Covey tentang Tujuh Kebiasaan, saya tidak lagi berpikir demikian. Covey mengumpakankan si petani adalah kita dan bebek bertelur emas adalah semua asset kita yang bisa menghasilkan hal yang baik dalam kehidupan kita. Ada beberapa contoh yang bisa dipakai disini, misalnya, uang yang berperan sebagai modal usaha kita, alat transportasi yang kita miliki untuk menjalankan usaha kita atau bahkan bisa juga tubuh kita (masih banyak lagi contoh lain yang bisa kita pikirkan, yang menurut kita adalah hal penting dalam kehidupan kita)

Tentang uang dalam modal usaha kita, kita bisa saja membunuh si bebek dengan cara membelanjakan uang tersebut. Ketika uang sudah habis dibelanjakan untuk barang-barang konsumsi, tidak ada lagi bebek yang bisa menghasilkan telur emas. Tentang alat transportasi yang kita miliki. Misalnya kita memiliki mobil baru, kita menggunakanya dengan berlebih tanpa mengeluarkan biaya untuk perawatannya. Memang pada awalnya kedengaran menyenangkan, mobil baru, kemampuan bagus, tidak membutuhkan biaya untuk merawatnya, kita memakainya sesuka kita. kemudian beberapa tahun berlalu, mobilnya rusak, bebeknya mati karena ternyata setelahnya ongkos perbaikannya menjadi sangat mahal. Begitu juga dengan tubuh kita, pada waktu usia kita masih muda, kita jarang sakit, rasanya kita bisa melakukan apa saja. Kita tidak menjaganya dengan baik, kita menggunakannya secara berlebihan. Beberapa tahun kemudian, kita sudah mulai mengeluhkan banyak hal dan si bebek perlahan-lahan mati, kita tidak lagi produktif, tidak ada lagi telur emas yang bisa kita nikmati.

Ternyata kadang bisa saja tanpa kita sadari kita melakukan hal yang sama dengan si petani yang kita anggap bodoh. Kita membunuh si bebek yang menghasilkan telur emas bagi kita karena kita ingin semuanya serba cepat, menikmati semuanya sekarang.

19 June 2007

Be All I Can Be

Saya punya keinginan untuk bisa melakukan banyak hal, punya kemampuan dibanyak bidang, dan saya ingin hal-hal tersebut bukan hanya sekedar bisa, tapi ahli. Membayangkan saya bisa melakukan banyak hal tersebut memang menyenangkan sekali. Saya suka itu.

Namun dibalik keinginan itu ada beberapa kekurangan dan kelemahan yang pernah buat saya kesal karena saya merasa terhalang untuk bisa melakukan sesuatu. Well, itu dulu. Sekarang lain dong ;) Saya lihat, seseorang yang tidak punya tangan karena cacat sejak lahir, tapi mampu menghasilkan lukisan-lukisan yang bagus dan mahal dengan menggunakan jari-jari kakinya. Ada lagi, Maradona, pemain sepak bola dari Italy, yang memiliki badan yang pendek sekali, gaya larinya lucu, tapi ternyata kekurangannya tidak menghalangi dia untuk menjadi pemain sepak bola terbaik dunia dimasanya.

Dari cerita itu saya ingat, Tuhan menciptakan kita, serupa dengan gambarNya. Apakah diciptakan serupa itu artinya sama bentuk saja? Well saya yakin bukan cuma itu. Kita diciptakan dengan potensi kemampuan yang luar biasa juga. Mungkin kita punya kecenderungan tertentu, atau kelemahan tertentu, tapi itu tidak berarti kita tidak bisa melakukan suatu hal. Dengan semangat, tidak menyerah, dan selalu berusaha saya yakin kita mampu melakukan hal-hal yang sulit sekalipun. Jadi kita pasti bisa!!! ;)

05 June 2007

4 Manfaat Mempersiapkan Diri

Mempersiapkan diri merupakan salah satu hal yang saya sukai. Entah karena kebiasaan atau memang pengaruh dari karakter saya tidak tahu pasti namun bagi saya, mempersiapkan diri memberikan suatu dampak yang baik buat saya. Berbagai manfaat yang saya dapatkan adalah sebagai berikut:
  1. Meningkatkan peluang keberhasilan. Dengan mempersiapkan diri, saya mendapatkan pandangan mengenai apa yang akan saya hadapi didepan dan dari pandangan tersebut saya bisa melakukan tindakan yang tepat.
  2. Memperbesar hasil yang akan didapatkan dimasa depan. Setelah saya tahu apa yang akan saya hadapi, saya bisa mengusahakan agar mendapat hasil yang terbaik.
  3. Melepaskan diri dari depresi dan stress. Setelah saya tahu dan siap menghadapi apa yang akan terjadi nanti, saya bisa lebih tenang. Makan jadi enak, tidur jadi nyenyak, dan semua menjadi menyenangkan.
  4. Memaksimalkan kemampuan dan talenta. Tidak peduli apakah persiapan saya berhasil atau tidak, saya tahu kemampuan dan talenta saya berkembang, karena mempersiapkan diri bisa berarti melatih dan mengembangkan diri.
Mau mendapatkan manfaat yang baik seperti itu kan? Ayo kita mempersiapkan diri untuk menghadapi masa depan kita nanti. :)

31 May 2007

Menentukan Skala Prioritas

Bagaimana Anda menentukan ukuran tingkat prioritas dari kegiatan-kegiatan Anda? Sebenarnya ada banyak cara untuk menentukan tingkat prioritas. Berikut ini adalah beberapa tips untuk menentukan tingkat prioritas yang dikutip dari buku Time Management karya Marc Mancini:
  1. Keuntungan atau manfaat yang tinggi.
    Kegiatan yang mana yang akan menghasilkan manfaat yang paling baik dibandingkan dengan waktu dan tenaga Anda.
  2. Esensi dari tujuan Anda.
    Kegiatan mana yang penting dan mendukung tercapainya cita-cita atau tujuan pribadi.
  3. Esensi dari tujuan perusahaan.
    Kegiatan mana yang menguntungkan bagi perusahaan, yang mana dengan melakukan kegiatan tersebut perusahaan merasa beruntung karena mempekerjakan Anda, atau apabila Anda pemilik perusahaan, perusahaan mendapat keuntungan karena kegiatan Anda.
  4. Esensi dari atasan Anda.
    Kegiatan mana yang mendapatkan penghargaan lebih dari atasan Anda.
  5. Tidak dapat didelegasikan.
    Kegiatan mana yang hanya bisa dilakukan oleh Anda dapat digolongkan berprioritas tinggi.

18 September 2006

Bertanding dengan Diri Sendiri

Dengan siapa seharusnya kita bertanding?
Dengan orang yang memiliki kemampuan yang lebih dari kita?
Ada kemungkinan kita akan frustasi..
Dengan orang yang memiliki kemampuan yang kurang dari kita?
Ada kemungkinan kita akan menjadi malas
Mari bertanding dengan diri sendiri
Menemukan potensi-potensi yang Tuhan berikan dalam diri kita
Karena kita semua unik dan memiliki potensi-potensi berbeda dari orang manapun juga.

03 June 2006

Sebuah Langkah Awal

Pernah melihat seseorang yang tetap sama seperti lima atau sepuluh tahun yang lalu? Bukan secara fisik, karena setiap orang pasti akan berubah secara fisik, tetapi cara berpikirnya, cara dia mengatasi masalah, dan lain-lain.

Well, saya tidak mau seperti itu. Saya tidak mau lima atau sepuluh tahun yang akan datang saya masih seperti saya yang sekarang (even saya tidak mau sama dengan yang kemarin). Something has to be changed in me, dan tentu saja harus berubah menjadi semakin baik.

Banyak kali saya berpikir, bagaimana caranya untuk berubah menjadi lebih baik?

Tentu saja jawabannya banyak sekali.

Salah satunya, ada yang mengatakan, bahwa masalah atau pressure dalam hidup kita akan mengubah kita menjadi lebih baik dan lebih dewasa. Well, itu benar sekali. Apalagi kalau kita memberikan respon yang benar dalam menghadapi masalah. Akan tetapi, saya mau share sesuatu yang lain, bukan tentang respon yang benar atau pressure. Saya mau membagikan tentang mulai meneliti kelemahan-kelemahan diri sendiri.

Ya, menurut saya, kita bisa mulai berubah dengan mulai meneliti kelemahan diri sendiri. Apa saja sifat-sifat jelek saya yang harus diubah, atau sifat yang menjadi hambatan saya dalam menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya. Misalnya kurangnya disipin, sifat ketidakpedulian, dan lain sebagainya.

Bayangkan orang yang tetap sama seperti 10 tahun yang lalu, tebak apa yang tetap sama dari dulu sampai sekarang dari dia? Saya rasa itu adalah sifat yang selalu merasa benar dan tidak mau berubah.

Tentu saja menyadari kelemahan baru langkah awal untuk berubah, karena menyadari kelemahan diri sendiri dan tidak ada follow upnya, tidak akan membuahkan apa-apa. Akan tetapi, menyadari kelemahan adalah starting point yang baik untuk memulai suatu perubahan dalam diri kita. Don’t you think so?

30 April 2006

Mengganggu saya II (ilustrasi)

Ketika saya baru saja post “mengganggu saya”, tiba-tiba saya mendapatkan ilustrasi tentang mengucap syukur melalui tindakan.

Saya mendapatkan ilustrasinya dari pengalaman saya sendiri. Hari ini saya belajar membuat bakmoi (salah satu tindakan saya untuk mengembangkan diri nih heheh…) untuk lunch bersama ortu. Saya tidak bisa memberikan komentar tentang bakmoi ini. Saya hampir tidak bisa makan karena menunggu reaksi papa dan mama saya yang makan bakmoi pertama buatan saya haha. Ternyata hampir habis ( tinggal jatah saya). Kekuatiran saya juga berlalu bersama dengan berlalunya bakmoi tersebut ke dalam perut mereka J. Saya senang sekali sebenarnya! Saya senang karena masakan saya dimakan. Coba saja misalnya bakmoi tadi hanya dipandangi mereka dengan kagum tapi tidak dimakan. Wah, walaupun mereka mengatakannya menarik tapi kalau tidak dihabiskan, saya pasti kecewa. Saya rasa Tuhan juga begitu. Dia pasti senang kalau apa yang Dia berikan kepada kita ternyata kita gunakan dengan baik. Semua talenta kita, semua yang bisa kita lakukan.

Mengganggu saya III (proses)

Sebenarnya pikiran-pikiran yang mengganggu adalah pikiran saya tentang apa yang harus saya lakukan untuk mencapai potesi maksimal saya.

Tadi malam saya menonton acara “American idol”, saya lupa sebenarnya siapa yang mengatakannya, entah Bocelli atau Foster, tapi yang jelas seseorang diantara meraka mengatakan bahwa ada perbedaan yang sangat jauh antara “good” dan “great”

Saya juga ingat visi jemaat MSI, tahun 2004 kalau tidak salah, yaitu “good to great”

Memang ada perjalanan dari “good” kepada “great”. Tidak mungkin langsung kepada “great”

So,”lets start it, Fanny.” Itu yang saya katakan kepada diri saya sendiri. “Tanpa meter yang pertama, saya tidak akan berjalan pada kilometer-kilometer kedepan”

Yah, saya memang excited sekarang. Harus ada meter pertama. Akan tetapi perjalanan ini bukan hanya mengenai satu langkah kedepan. Karena kalau hanya satu langkah kedepan, saya hanya berpindah tempat. Saya perlu untuk terus melakukan meter-meter berikutnya, dan itu memerlukan konsistensi dan disiplin.

Pengembangan diri itu suatu perjalanan, bukan moment. Pengembangan diri itu suatu proses. Dan proses itu membutuhkan disiplin.

Belum lama saya ini menemukan suatu ungkapan yang bagus sekali

Nothing in the world can take the place of persistence. Talent will not: Nothing is more common than unsuccessful men with talent. Genius will not: Unrewarded genius is almost a proverb. Education will not: The world is full of educated derelicts. Persistence and determination alone are omnipotent.

29 April 2006

Mengganggu saya

Ada yang mengganggu saya akhir-akhir ini. Hal yang mengganggu saya adalah pikiran saya sendiri. Pikiran-pikiran ini sungguh membuat saya tidak tenang.

Sebenarnya pikiran yang mengganggu ini adalah tentang pengembangan diri sendiri. Saya baru menyadari kalau sebenarnya saya jauh dr berusaha mengembangkan diri sendiri. Saya cenderung puas dengan apa yang sudah saya raih. Saya berpikir kalau hidup saya sudah cukup nyaman dan asal saja saya melakukan hal yang benar maka hal yang baik pasti akan mengikuti.

Baru-baru ini saya melihat statement tersebut dengan point of view yang beda.

Well, benar sekali kalau kita melakukan hal yang benar hal yang baik pasti akan terjadi. Kalau dulu saya berpikir hal yang benar hanyalah tidak melakukan dosa atau tidak menyakiti orang lain…sekarang saya melihat bahwa itu saja tidak cukup. Hal yang benar juga adalah melakukan segala sesuatu dengan sangat baik bahkan yang terbaik dari yang bisa saya lakukan, selalu mau belajar dan mau berkembang hari demi hari. Hal ini tentu saja akan memberkati orang lain.

Dahulu saya berpikir mengucap syukur sama dengan puas dengan keadaan saya sekarang. Akan tetapi sekarang saya menyadari kalau hal tersebut salah. Itu bukanlah tindakan yang baik dalam mengeksperiskan ucapan syukur kita pada Allah (bahkan bisa dikatakan bahwa tindakan puas diri sama dengan tidak bersyukur padaNya. Ekspresi syukur kita pada Tuhan, dapat berupa pujian kepadaNya dengan ucapan dan doa; dan dapat juga berupa tindakan. Ekspresi berupa tindakan adalah dengan selalu mau belajar, berubah dan mengoptimalkan apa yang sudah Dia berikan pada kita. Ya, dengan mengoptimalkan apa yang sudah Dia berikan kepada kita, secara tidak langsung kita bersyukur padaNya atas apa yang sudah Dia berikan kepada kita. Ada suatu ungkapan mengatakan bahwa action speaks louder than words. Jadi, mari bersyukur padaNya dengan mengoptimalkan apa yang sudah Dia berikan kepada kita.

29 March 2006

lebih baik

Hari ini… memutuskan untuk lebih baik dari kemaren, lebih baik dalam segala hal, lebih bersemangat….heheh…