akhir-akhir ini Indonesia sedang heboh kasus Chandra Bibit. Karena penangkapan kedua pimpinan non aktif KPK tersebut, ditambah lagi dengan hasil sadapan atas telepon Anggodo yang seolah-olah berkonspirasi dengan pejabat-pejabat tinggi negara untuk melemahkan KPK, maka mereka menuai banyak simpati dari masyarakat yang paling menonjol adalah dukungan dari facebooker yang sudah mencapai satu juga pendukung.
kemudian beberapa hari lalu komisi 3 DPR mengadakan raker dengan POLRI. Di raker ini, Kapolri Bambang H Danuri menjelaskan mengapa mereka menahan BIbit dan Chandra dengan panjang lebar.
Rakyat mulai bingung... siapa yang benar siapa yang salah? namun demikin, dukungan terhadap Bibit dan Chandra masih terus berlangsung walau tidak sekencang pada awalnya.
Kasus ini menjadi sangat menarik dan juga membingungkan. Rakyat menaruh harapan penuh pada tim 8 untuk memberikan kejelasan kepada masyarakat, siapa sebenarnya yang benar dan siapa sebenarnya yang salah.
Saya secara pribadi terus mengikuti perkembangan kasus Bibit dan Chandra ini. Walaupun saya tidak menjadi salah satu dari satu juta pendukung Bibit dan Chandra di facebook (saya sudah mendapat invitation untuk bergabung tapi saya tidak bergabung), saya kerap kali dengan sengaja membuka page ini untuk membaca komentar-komentar dari pendukung Bibit dan Chandra ini. Ada beberapa dari mereka dengan simpatik memberikan support moral kepada Bibit dan Chandra dan ada juga dengan cara memaki-maki POLRI.
saya sebagai rakyat biasa yang mengamati, menurut saya, sebaiknya kita janganlah terlalu cepat berburuk sangka kepada suatu institusi sebelum kita tahu dengan jelas kebenarannya seperti apa dalam kasus ini. kalau ternyata yang kita dukung itu salah bagaimana? saya bukannya mengatakan Bibit dan Chandra yang salah dan atau POLRI yang salah, akan tetapi menurut saya, sebaiknya kita tunggu hasilnya seperti apa.
Dilain pihak, saya juga memaklumi kemarahan rakyat yang begitu membenci POLRI. Stigma negatif sedikit banyak sudah merambah ketubuh departeman yang langsung dibawahi presiden ini dikarenakan banyaknya kasus dimana polisi tidak memberikan contoh yang baik pada masyarakat. Contoh yang sederhana adalah, tilang dan lain sebagainya.
Dimata saya, dukungan yang kuat dari masyarakat yang sebenernya masih belum tau duduk perkaranya seperti apa, adalah karena stigma negatif dari masyarakat selama ini kepada POLRI sehingga ini seperti bom waktu dan waktu meledaknya adalah saat ada kasus seperti ini.
Doa saya, semoga saja kebenaran segera terungkap. Dan POLRI, berbenahlah! Berikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat sehingga bukannya dibenci tapi dicintai oleh rakyat.
Majulah Indonesiaku :)
07 November 2009
Menilai Bergulirnya kasus Bibit - Chandra
31 October 2009
Sebuah Ilustrasi tentang beban
Jam 7 malam.
Sudah cukup lama aku berkutat dengan pekerjaanku.
Aku bersiap-siap untuk meninggalkan kantor.
Dengan enggan kuangkat tas berat itu ke pundakku.
Beban yang menekan di pundakku terasa begitu mengganggu, tapi aku memang harus membawa tas ini.
Di perjalanan pulang, aku mengendarai sepeda motorku masih dengan konsentrasi pada tas yang membebani pundakku.
Seorang anak kecil menyeberang dengan sepedanya tanpa melihat ke kiri dan ke kanan. Huh, aku memaki dalam hati.
Kecil kecil sudah menyebalkan, gimana gedenya nanti.
Aku melanjutkan perjalanan masih dengan sejuta omelan dalam hati.
Ingin rasanya cepat sampai di rumah, supaya aku bisa beristirahat.
Suara klakson yang berbunyi nyaring mengagetkan aku dari lamunanku.
Kulirik spion dan kulihat seorang anak muda dengan mobil mewahnya membunyikan klakson dengan nada tak sabar.
Huh, kenapa sih dengan orang-orang ini?
Emangnya dia nggak lihat kalau jalanan emang lagi macet?
Emangnya dikira enak membawa tas seberat ini?
Ketika sampai di rumah, ternyata perasaan nyaman yang kuimpikan tak dapat kutemui. Suasana hiruk pikuk keluargaku terasa seperti
dentuman-dentuman keras di kepalaku.
Lagi-lagi aku memaki dalam hati.
Aku capek. Aku ingin istirahat. Berat sekali yang harus aku angkat.
Kenapa sih nggak ada yang mau mengerti?
Malam hari. Akhirnya aku memperoleh ketenangan.
Aku bisa tidur dan beristirahat. Tapi tas besar dan berat ini terasa mengganggu sekali. Aku tak bisa tidur.
Tapi aku tak bisa melepaskannya. Aku kesal.
"Bapa, kenapa sih berat sekali? Sungguh-sungguh sangat mengganggu.. . "
Aku mengeluh sambil meneteskan air mata.
"Mengapa engkau tidak meletakkan tas itu anakKu?"
"Tapi aku tak bisa Bapa"
"Kenapa?"
"Lihatlah, semua tas ini berlabelkan tanggung jawab.
Semua harus aku bawa setiap saat, aku tak bisa meletakkannya.
Tas hitam yang paling besar ini, lihat tulisan di depannya, PEKERJAAN.
Semua tanggung jawab pekerjaanku ada di dalamnya.
Lalu yang coklat ini, KELUARGA. Aku juga tak bisa meletakkannya.
Semuanya adalah bebanku.
Dan yang biru ini, PELAYANAN. Engkau tentu tak ingin aku
meletakkannya bukan?"
Aku berusaha menjelaskan.
Bapaku yang baik hanya tersenyum, lalu mendekatiku.
"Kemarilah, Aku ingin melihatnya."
Ia melihat tas hitam besar yang kuletakkan di pundakku.
"AnakKu, engkau dapat meletakkan tas ini.
Ini memang tanggung jawab pekerjaanmu. Dan engkau memang harus menanggungnya.
Namun saat engkau melangkah keluar dari kantor, engkau dapat meletakkan tas ini di samping meja kerjamu.
Tenanglah, tidak akan ada yang mengambilnya.
Lagi pula semua isinya adalah tanggung jawabmu bukan?
Percayalah, tak akan ada yang tertarik untuk mengambil tas ini, sehingga keesokan hari, saat engkau kembali ke kantor, pasti tas
ini akan tetap ada di sana , dimana engkau meletakkannya. Dan engkau dapat mengambilnya kembali dan melanjutkan tanggung jawabmu".
Ia tersenyum menunggu jawabanku.
"Benar Bapa, tapi aku tak dapat meletakkannya. Ia melekat terus di pundakku".
Ia menatapku dengan penuh kasih, lalu perlahan mengambil tas itu dari pundakku.
"Kemarilah anakKu. Di saat engkau tak dapat meletakkannya, Aku dapat membantumu untuk meletakkannya.
Dan esok, Aku pun dapat membantumu untuk mengenakannya kembali."
Ia meletakkan tas hitam itu di dekat tempat tidurku.
Rasanya pundakku lega sekali.
Tas paling berat yang selalu menekanku telah diambil.
Aku menggerak-gerakkan pundakku sambil tersenyum.
"Engkau benar Bapa, rasanya enak sekali. Ringan.
Besok aku akan lebih siap untuk melanjutkan pekerjaanku.
Esok, pasti tas itu tidak akan terasa terlalu berat lagi".
Aku menatap wajah Bapaku yang penuh kasih.
Sungguh indah senyum dan sinar mataNya.
Ia menatap tas coklat di pundakku.
"Lalu itu? engkau tidak ingin meletakkannya juga?"
"Bapa, aku tidak bisa. Ini adalah tanggung jawab KELUARGA.
Kemanapun aku pergi aku harus membawanya."
"AnakKu, Aku sungguh bahagia karena engkau memperhatikan setiap tanggung jawab yang kuberikan padamu mengenai keluargamu. Tapi
engkau pun tak boleh lupa, bahwa keluargamupun adalah milikKu. Dan aku memelihara setiap kepunyaanKu.
Engkau memang harus membawa tas itu bersamamu, tapi sesekali letakkanlah, agar engkau dapat bermain dengan bebas dengan
keponakanmu, bercanda dengan kakakmu, atau sekedar berbincang dan bercerita dengan orang tuamu.
Rasanya belakangan ini Aku jarang melihatmu melakukannya" .
Aku tertunduk malu.
Ia benar. Aku membawa tas ini kemana-mana, dan kulaksanakan setiap tanggung jawab untuk keluargaku,
tapi sepertinya ternyata tas ini menjadi jauh lebih berharga dari pada kehadiran keluargaku sendiri.
Sekali lagi Bapa mengambil tas dari pundakku.
"Mari anakKu, letakkanlah. Di saat engkau perlu, letakkanlah.
Karena engkau dapat yakin, walaupun engkau meletakkannya dan meluangkan waktu dengan keluargamu,
Akulah yang akan tetap menjagamu dan keluargamu".
Dan pundakku menjadi jauh lebih lega.
Kini hanya tinggal satu tas biru yang masih memberati pundakku.
"Bapa, tas yang satu ini sungguh-sungguh tak dapat kuletakkan.
Setiap saat setiap waktu aku harus membawanya.
Karena setiap detik kehidupanku adalah pelayananku untukMu.
Engkau tentu tak ingin aku meletakkannya bukan?"
"Hmm... benar juga".
Aku terkejut mendengar jawabanNya. Sepertinya agak tidak sesuai harapanku.
Ia telah membantuku meletakkan kedua tasku sebelumnya, dan sepertinya aku sungguh-sungguh berharap agar tas ini juga dapat
kulepaskan.
"Mari coba kulihat tas itu"
Ia melihat dan meraba tas biru yang masih melekat di pundakku.
"Anakku, sepertinya ada yang salah dengan tasmu ini. Kemarilah,
coba lepaskan".
Ia mengambil tas biruku.
"Anakku, engkau benar. Aku ingin agar engkau selalu melayaniKu
dalam setiap detik kehidupanmu. Dan percayalah, itu sungguh-sungguh
menyenangkan hatiKu.
Tapi sepertinya tasmu ini bahannya terlalu berat, sehingga
menekan pundakmu terlalu berat."
Kemudian Ia memberikan aku satu tas biru yang lain.
"Ini, pakailah tas ini sebagai gantinya. Ini merupakan tas dengan
bahan KASIH.
Jika engkau meletakkan semua pelayananmu di dalamnya, niscaya
engkau tidak akan terbebani dengan tasmu ini".
Aku menerima tas baruku dari tanganNya, lalu memindahkan semua isi
tas lamaku ke dalam tas berbahan KASIH itu.
Aku mencoba mengangkatnya. Ternyata Bapaku benar.
Tas itu kini terasa ringan dan sungguh nyaman di pundakku.
Aku memandangNya penuh kasih.
"Terima kasih Bapa. Aku sungguh mengasihiMu. Terima kasih untuk
pelajaranMu hari ini".
* * * * *
Pagi ini aku memulai hari dengan senyuman.
Istirahatku sudah cukup. Dan aku siap untuk menghadapi tantangan hari
ini.
Di perjalanan, aku masih tetap bertemu orang-orang yang
menyebalkan, namun tidak lagi memaki dalam hati, melainkan aku
berdoa untuk mereka.
Mungkin mereka juga masih selalu membawa tas mereka kemana-mana
atau mereka juga mengenakan tas dengan bahan yang salah. Banyak sekali.
Aku melihat ada yang membawa dua tas besar, tiga bahkan empat.
Tulisannya pun bermacam-macam, ada PEKERJAAN, KELUARGA, PELAYANAN,
KULIAH, SEKOLAH, BISNIS, dan masih banyak lagi.
Memang tanggung jawab adalah sesuatu yang harus kita pikul dan harus
kita
selesaikan.
Tapi kita pun harus tetap belajar untuk menempatkan di saat mana
kita harus mengangkat dan di saat mana kita harus meletakkan.
Dan aku terus belajar ...
* * * * *
Seseorang yang bijaksana pernah bertanya padaku:
"Mana yang lebih berat, mengangkat sebuah gelas dengan satu tangan
selama 1 jam penuh, atau mengangkat gelas tersebut selama 10 menit
lalu meletakkannya sejenak dan mengangkatnya kembali selama 10
menit dan demikian seterusnya sampai 1 jam?"
* * * * *
"Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat.
Aku akan memberi kelegaan kepadamu".
Matius 11:28
"Sebab itu, janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari
besok mempunyai kesusahannya sendiri.
Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari".
Matius 6:34
(dari notes seorang teman di facebook)
Posted by
Andi Yuliarto
at
20:49
0
comments
15 October 2009
Mendua Hati
"Duh, gimana ya keadaan papa mama disana? sehat-sehatkah? sudah makan? makan apa? siapa yang masakin? apa orang-orang disekeliling mereka baik pada mereka?" pikiran-pikiran semacam itu kerap kali berdatangan ke dalam benakku ketika aku hendak tidur. Hatiku tidak tenang.
"Duh, gimana ya suamiku di toko sendirian? sibukkah dia? capaikah? sudah makankah? kalau mau ke belakang gimana? " seperti awan kelabu pikiran-pikiran semacam itu bertengger di benakku ketika aku pergi menemui orang tuaku dan meninggalkan suamiku jaga toko.
Kalau aku di sini, aku memikirkan mereka yang di sana. Begitu pula sebaliknya. Selalu saja ada yang kukuatirkan. Aku menyebutnya, "mendua hati" aku ingin memiliki keduanya, bersama-sama sekaligus yang untuk saat ini tidak mungkin.
Mendua hati ini membuatku tersiksa. Aku tidak bisa menikmati keadaanku di suatu tempat dan waktu tertentu. Aku tidak konsentrasi, tidak efektif dan tidak bisa memberikan yang terbaik di tempat dimana aku berada.
Kurenungkan, Aku tidak boleh seperti itu. Kekuatiranku tidak akan menolong apapun kepada orang yang aku pikirkan. Aku menanggung beban yang seharusnya tidak perlu aku pikul. Aku terlalu sombong dan berpikir hanya aku yang bisa menolong mereka. Bukankan Tuhan menjagai dan melindungi mereka? aku harus belajar dari Tuhan, Ia lemah lembut dan rendah hati denga cari itu barulah aku bisa tenang. Selain itu, kalau aku seperti itu, bukankan orang yang sedang bersamaku akan sedih? bukankah tidak ada gunanya memikirkan orang yang jauh disana tapi "menelantarkan" orang yang sedang bersamaku?
Dan aku datang kepada Tuhan, memohon ampun padaNYa. Meminta padaNya untuk memberikan aku roh yang lemah lembut dan rendah hati agar aku tidak sok merasa bisa menanggung semuanya. Aku meletakkan beban itu di kayu salib dan merasa lega. Aku tidak lagi kuatir. Sekarang aku mau menikmati diriku dimanapun aku berada. Memberikan yang terbaik untuk mereka yang ada disampingku saat itu. :)
Posted by
Fanny Ang
at
16:15
0
comments
Labels: Hati, Kekuatiran, Kerendahan Hati, Lemah Lembut
13 October 2009
Mengapa harus sama?
Seorang anak bisu menangis karena sering dihina oleh teman-temannya. Dia menangis dan bertanya kepada seorang bapak tua, pemain biola jalanan yang juga bisu. Dengan bahasa isyarat, dia bertanya, "mengapa aku tidak sama dengan orang lain?" si bapak tua itu tersenyum dan menjawab dengan bahasa isyarat, "mengapa harus sama dengan orang lain?"
cerita diambil dari sebuah iklan shampo di internet
Posted by
Fanny Ang
at
13:30
0
comments
Labels: Uniqueness
12 October 2009
start writing again
Wah, lama gak nulis blog. terbius oleh facebook dan twitter. What a wonderful tools facebook and twitter are. I can meet and get the news from family and even friends that i don't meet for years! and the game :) i play mafia wars a lot. now i am in level more than 2 hundred :P
however, it think i should not leave my blog like this. I have to write again for my own sake. Writing make me think and it help me to figure out what is going on to my social living and myself. Many times it also help me solving problems i face. I think this one would be the starter. it's not that easy to start again after about one year not writing at all.
well, nice to meet you again. be patient with me :)
Posted by
Fanny Ang
at
15:33
0
comments
04 March 2009
Pemilu Sudah Datang
Pemilu sudah diambang.
ah, siapa bakal menang?
mampukah dia untuk rakyat berjuang?
iklan-iklan parpol berbanjiran
selebaran-selebaran bertebaran
yang manakah yang akan membela kebenaran?
Pilihlah yang tak dapat disuap
agar uang rakyat tak menguap
jangan ketinggalan memilih
karena kita juga ikut memiliki ibu pertiwi
Posted by
Fanny Ang
at
14:36
2
comments
Labels: Pemilu
14 February 2009
I Want To Spend My Lifetime Loving You
Keep your heart here with mine
Life's a dream we are dreaming
Race the moon, catch the wind
Ride the night to the end
Seize the day, stand up for the light
I want to spend my lifetime loving you
If that is all in life I ever do
Heroes rise, heroes fall
Rise again, win it all
In your heart, can't you feel the glory?
Through our joy, through our pain
We can move worlds again
Take my hand, dance with me, dance with me
I want to spend my lifetime loving you
If that is all in life I ever do
I will want nothing else to see me through
If I can spend my lifetime loving you
Though we know we will never come again
Where there is love, life begins over and over again
Save the night, save the day
Save the love, come what may
Love is worth everything we pay
I want to spend my lifetime loving you
If that is all in life I ever do
I want to spend my lifetime loving you
If that is all in life I ever do
I will want nothing else to see me through
If I can spend my lifetime loving you
02 February 2009
it is all about money
kalau dulu, apa saja yang aku mau lakukan dengan uangku ya aku lakukan saja.
tapi sekarang, i have to discuss anything dengan suamiku secara sekarang keuangan udah punya berdua, bukan kayak dulu lagi. kadang ya bisa "berantem-brantem" dulu emang, karena prioritasnya beda. bentar bagi aku yang penting ini dan itulah, bentar bagi dia yang harus dibeli yang kayak gini dan gitu dulu. phew, belajar juga deh untuk rendah hati dan mau mendengarkan orang lain. hehehe. however, dalam menghadapi perbedaan prioritas, kami melewatinya dengan cukup baik secara menurut kita berdua, prinsip kita sama dalam keuangan, yaitu berikan kepada Tuhan haknya Tuhan, berikan kepada Pemerintah haknya pemerintah dan jangan belanja lebih dari yang kita punya.
dengan prinsip tersebut diatas, yang kita sudah kita lalui sekarang adalah, setia tiap bulan kasih perpuluhan, sudah bikin NPWP buat usaha kita dan juga menabung donk. :)
iya, berbagi keuangan adalah hal yang baru bagi aku. tapi menurut aku sangat bermanfaat. kita berdua jadi bisa belajar satu dengan lain tetang prioritas keuangan kita, kita bisa belajar untuk either tidak terlalu boros atau tidak terlalu pelit :D dan yang jelas, dengan menikah, kita bisa saling mengisi satu dengan yang lain, belajar jadi lebih wise dan kini kita punya cita-cita yang sama, jadi bisa saling mendorong dan jadi lebih bersemangat.
Posted by
Fanny Ang
at
11:47
0
comments
Labels: Adaptasi, Finance, Pajak, Perpuluhan
30 January 2009
Back to the Cause
aku bete sambil nangis ke Andi (sorry ya honey, sering bikin kamu bingung dengan tingkahku sendiri)
hari ini aku merenung lagi..
buat apa sih aku disini? jauh banget dari hometown, ketemu dengan orang-orang yang bahasanya begitu sulit aku pahami.. (well, rasanya sih ndak juga, aku dah mulai belajar lho bahasa jawa, even baru sedikit, ya begitulah kalau lagi mengasihani diri sendiri.. semua rasanya jadi salah)..
iya, aku ada disini karena aku punya orang yang aku cintai dan punya mimpi bersama dengan orang ini. iya, God and Andi are my cause, that is what i live for.
kadang-kadang emang ketika lupa dengan hal ini dan mulai fokus dengan diri sendiri, rasanya semua jadi begitu aneh dan salah.
hari ini aku tersenyum lagi, tidak mungkin aku tidak berguna. toh, bagi Andi kehadiranku sangat berarti bagi dia (ge er banget yak heheh tapi katanya dia emang gitu kok, jadi aku percaya aja gombalnya. kalo aku ndak percaya mah buat apa aku merit sama dia ya kannnn???? hahahaha). trus belajar sparepart.. rasanya aku mulai bisa, toh ndak mungkin aku bisa ngerti semuanya dalam satu dua bulan. trus juga mengenai bahasa, aku pasti bisa.
ya begitulah ketika kehilangan fokus, rasanya semua jadi gelap ndak menentu sampai aku kembali lagi melihat alasan itu :)
27 January 2009
Gong Xi Fa Chai
xin nian kuai le, shen ti cian kang, wan se ru yi, nian nian you yu.
ya ya, suasana tahun baru china masih terasa. tadi aja masih ada tamu yang datang dan kasih kiong hi kiong hi gt deh.
this is my first xin jia atau my fist chinese new year as a wife. hehe. semuanya serba baru bagiku. pertama-tama jelas keluarga baru. ndak ada satupun keluarga yang aku temui kali ini adalah keluarga yang biasanya aku kunjungi sebelum aku menikah. So, banyak sekali pasti cara-cara yang bakal beda yang aku temui. belum lagi statusku dulu aku masih single, masih nerima angpao, gak mikir macem-macem harus gimana-gimana, pokoknya have fun! tapi sekarang, rasanya aku lebih banyak memperhatikan dari pada have funnya. hehe. namanya juga beradaptasi...
yang beda, biasanya malam tahun baru itu aku duduk manis makan malam dengan papa dan mama dan saudara-saudara aja di rumah. tapi malam tahun baru disini kita sekeluarga pertama-tama pergi rumahnya pho phonya Andi. disana makan malam dengan keluarga dari mama mertua. nah, setelah itu pergi makan malam lagi ke rumah lai maknya Andi. disini juga kumpul sama semua saudara-saudaranya papa mertua. hehe pokoknya malam itu bener-bener siapin perut. bad newsnya, aku baru aja sembuh dari disentri dan actullly gak boleh makan nasi, sayur dan buah. ih, padahal harusnya sin jia itu boleh makan jeruk mandarin sebanyak-banyaknya deh...:( tapi ya mau gimana lagi, masa aku harus sangu bubur dari rumah? jadinya aku nekat makan nasi aja, trus makan daging-dagingan aja. hehe yang ini sih masi lumayan, lah.
yang beda lainnya, biasanya kalau di rumah donggala, kalau sin jia pasti keduluanan kedatangan tamu karena yang paling tua ya papa mama itu. sodara-sodaranya mama (karena mama yang paling tua) pada berdatangan dan ponaan-ponaannya papa yang berjubel itu pada datang semuanya pagi-pagi. ya jadilah kita beramai-ramai dirumah sendiri. setalah itu ya kita tetep mendatangi juga yang pangkatnya lebih tua dari kita. hehe. nah, kalau disini, lai maknya andikan tinggalnya di tempatnya pek, jadilah semua keluarga ngumpul tumplek blek disana. mana papa mertua bersaudara 9 orang lagi... huhu. untung aku sudah hapal semua sekarang.
trus mengenai bagi-bagi angpao. kalau dulu di Donggala, sin jia itu waktunya panen angpao. hihi dari papa mama dapet, dari twaku dan beku dapet, trus dari sodara-sodara sepupu yang udah nikah itu juga dapet loh. asik banget. nah, kalao disini nih, critanya aku udah nikah, brarti udah waktunya yang malah kasih angpao. jadilah Andi dan aku prepare angpao juga buat yang pangkatnya dibawah kita. Ndak papa deh, batin kita berdua, toh memberi lebih baik dari pada menerima, anggap aja nabur biar tahun depan kita juga trima, tapi melalui anak kita hihi (beriman donk tahun depan udah punya baby xP) tapi lucunya, pas sampe sana, eh, malah dikasih angpao juga sama lai mak. trus sama pek, trus sama aem, trus sama encek. kita berdua sampe terbengong-bengong trus ketawa aja. ya gimana lagi, masa mau ditolak mah rejeki, ya kan? :P brarti tuaiannya langsung gak perlu tahun depan. hahhaha. tapi beneran deh, tuaiannya lebih banyak dr taburan.. hihi ya dimana-mana rasanya emang gt deh hehehe... (tapi babynya aku tetep mau tahun depan udah ada amiinn? amiiiiiinnnnnn. hehehe...)
setelah dr tempatnya lai mak, kita pergi keliling sama sodara-sodaranya andi yang lain, misalnya sepupu-sepupunya papa mertua. yah, sekalian kenalan juga. aku toh, gak terlalu kenal. trus malamnya ke tempatnya pho phonya lagi. trus pulang dan langsung tidur deh..
oya, masih ada lagi satu perbedaan sin jia di sini dan di Donggala, yaitu tanggalanya. iya jangan kaget, tanggalnya. bukan beda seperti satu atau dua hari aja, tapi kalau di sini sin jianya ya emang chinese new year, kalau di Donggala dirayainnya ya pas tanggal 1 january. mengikuti kalender masehi bok. (rohani juga ya. hihi). Bukannya apa. dulu sekali, pas zamannya orde baru kan semua yang berbau chinese dihapus, sekolah-sekolah orang tua-orang tua kita semuanya ditutup habis. trus nama-nama chinese semuanya harus ganti nama indonesia. trus ndak boleh ngomong pake bahasa mandarin, trus juga perayaan imlek juga ditiadakan. jadilah kita merayakan tahun baru pada tanggal 1 january itu....
ya namanya juga baru 6 bulan menikah dan tinggal sangat jauh dari hometownku, aku masih beradaptasi dengan banyak hal. jadi jangan kaget kalau aku suka menuliskan perbedaan-perbedaan antara dulu dan sekarang. bukan hanya perbedaan antara Andi dan aku, tapi juga antara keluarga, bahkan lingkungan sekeliling, budayanya dengan aku. Tapi, aku senang bisa melihat sisi lain selain dari kehidupanku dulu, sisi lagi dari bumi ini yang masih belum jauh-jauh amat sih dari tempat tinggalku dulu. aku menikmati semuanya ini, aku suka sesuatu yang baru apalagi ada Andi, orang yang paling aku sayangi, orang yang paling wise, orang yang kemanapun ada dia, aku bisa merasa aman. hehhe. beneran kok ;) love you honey...
Posted by
Fanny Ang
at
17:58
3
comments
Labels: Adaptasi, Andi, Chinese New Year

