Disaat kutakberdaya
KuasaMu yang sempurna
Ketika kuberdoa
Mukjizat itu nyata
Bukan karena kekuatan
Naman RohMu ya Tuhan
Ketika kupercaya
Mukjizat itu nyata
I just think.. That many things come from simple things And I could learn and enjoy many things from them..
14 November 2006
13 November 2006
Cerita tentang seorang kakek, cucunya dan keledai yang baru dibeli
Seorang kakek dan seorang cucu baru saja membeli seeokor keledai. Dalam perjalanan pulang, si cucu menaiki keledai tersebut dan si kakek yang menarik keledai. Melihat itu, beberapa orang di jalan memberikan komentar, “cucu tidak tau diri, masa kakek tua di suruh menarik keledai”. Mendengar itu, maka si cucu turun dari keledai dan si kakek yang menaiki keledai dan mereka kemudian melanjutkan perjalanan mereka.
Dalam perjalanan, orang-orang mulai mengomentari mereka lagi, “kakek tidak tau diri, masa cucu yang masih kecil disuruh menarik keledai.” Bingung, mereka berdua memutuskan untuk menaiki keledai.
Akan tetapi kemudian mereka dikomentari lagi, “wah, kakek dan cucu tidak tau diri, keledai satu dinaiki dua orang.” Mendengar itu, mereka akhirnya turun dari keledai itu dan memutuskan untuk memikul keledai itu.
Melihat kakek dan cucu memikul keledai, orang-orang ramai mengomentari, “Wah bodoh sekali kakek dan cucu itu! masa keledai dipikul?.” Akhirnya kakek dan cucu itu benar-benar bingung dan meninggalkan keledai itu di tengah jalan dan pulang tanpa keledai yang baru mereka beli tersebut.
Cerita di atas adalah ilustrasi dari orang yang begitu peduli dengan apa kata orang. Segala sesuatu menjadi salah bahkan membuat mereka melakukan hal-hal yang merugikan diri mereka sendiri.
Begitu pula dengan kita. hal tersebut bisa saja terjadi kalau kita selalu menuruti apa kata orang. Ingin menyenangkan semua orang. Ada satu istilah yang pernah saya dengar untuk itu adalah “orang lain yang kenyang anda yang bayar tagihannya.”
Yang perlu kita fokuskan dalam hidup ini adalah menyenangkan hati Tuhan sehingga kita bisa merasa aman dengan apa yang kita lakukan, ya gak?
Btw, sulit loh menyenangkan hati semua orang hehe.. ..
Dalam perjalanan, orang-orang mulai mengomentari mereka lagi, “kakek tidak tau diri, masa cucu yang masih kecil disuruh menarik keledai.” Bingung, mereka berdua memutuskan untuk menaiki keledai.
Akan tetapi kemudian mereka dikomentari lagi, “wah, kakek dan cucu tidak tau diri, keledai satu dinaiki dua orang.” Mendengar itu, mereka akhirnya turun dari keledai itu dan memutuskan untuk memikul keledai itu.
Melihat kakek dan cucu memikul keledai, orang-orang ramai mengomentari, “Wah bodoh sekali kakek dan cucu itu! masa keledai dipikul?.” Akhirnya kakek dan cucu itu benar-benar bingung dan meninggalkan keledai itu di tengah jalan dan pulang tanpa keledai yang baru mereka beli tersebut.
Cerita di atas adalah ilustrasi dari orang yang begitu peduli dengan apa kata orang. Segala sesuatu menjadi salah bahkan membuat mereka melakukan hal-hal yang merugikan diri mereka sendiri.
Begitu pula dengan kita. hal tersebut bisa saja terjadi kalau kita selalu menuruti apa kata orang. Ingin menyenangkan semua orang. Ada satu istilah yang pernah saya dengar untuk itu adalah “orang lain yang kenyang anda yang bayar tagihannya.”
Yang perlu kita fokuskan dalam hidup ini adalah menyenangkan hati Tuhan sehingga kita bisa merasa aman dengan apa yang kita lakukan, ya gak?
Btw, sulit loh menyenangkan hati semua orang hehe.. ..
09 November 2006
Senang liat orang susah, susah liat orang senang?
“Susah liat orang lain senang, senang liat orang lain susah”. “Tanya kenapa?”
Iklan rokok yang sempat saya liat di TV ini emang keliatannya lucu, tapi ya memang kenyataannya sering terjadi begitu. Sangat mudah untuk senang ketika orang lain susah dan senang melihat orang lain susah. Akan tetapi kalau bener itu terjadi di dalam diri kita, berarti ada yang salah.
Menurut saya hal ini mungkin saja terjadi karena kita tidak merasa aman dengan diri kita, kita selalu membandingkan diri kita dengan orang lain.
Ketika kita membandingkan diri dengan orang lain, kecenderungan hati kita adalah kita tidak senang ketika orang lain mendapatkan keberuntungan karena itu akan menyebabkan kita kelihatan lebih kecil dari dia, dan kalau dia mendapatkan musibah kita akan senang karena itu akan membuat dia kelihatan lebih kecil dari kita.
Kalau sudah begitu, kita tidak bisa memenuhi Firman Tuhan agar kita bersukacita bersama dengan orang yang bersukacita dan menangis bersama dengan orang yang menangis donk? (makanya merasa aman dengan diri sendiri itu penting sekali lo)
Itu salah satu jawaban saya setelah saya bertanya mengapa. =P Bagaimana dengan jawaban/pendapat saudara? :)
Iklan rokok yang sempat saya liat di TV ini emang keliatannya lucu, tapi ya memang kenyataannya sering terjadi begitu. Sangat mudah untuk senang ketika orang lain susah dan senang melihat orang lain susah. Akan tetapi kalau bener itu terjadi di dalam diri kita, berarti ada yang salah.
Menurut saya hal ini mungkin saja terjadi karena kita tidak merasa aman dengan diri kita, kita selalu membandingkan diri kita dengan orang lain.
Ketika kita membandingkan diri dengan orang lain, kecenderungan hati kita adalah kita tidak senang ketika orang lain mendapatkan keberuntungan karena itu akan menyebabkan kita kelihatan lebih kecil dari dia, dan kalau dia mendapatkan musibah kita akan senang karena itu akan membuat dia kelihatan lebih kecil dari kita.
Kalau sudah begitu, kita tidak bisa memenuhi Firman Tuhan agar kita bersukacita bersama dengan orang yang bersukacita dan menangis bersama dengan orang yang menangis donk? (makanya merasa aman dengan diri sendiri itu penting sekali lo)
Itu salah satu jawaban saya setelah saya bertanya mengapa. =P Bagaimana dengan jawaban/pendapat saudara? :)
04 November 2006
Masih jadi Prioritas?
Baru saja saya membaca blog sahabat saya, Ayling. Di blognya ditulis bagaimana seorang yang begitu sibuk dengan kerjaannya setiap hari sehingga melupakan waktu berdoa dan baca firman. Ketika dia mati dan namanya dicari di buku kehidupan, namanya tidak ditemukan disana. Hal ini terjadi karena Tuhan terlalu sibuk sehingga tidak menuliskan namanya disana.
Mungkin cerita ini hanya fiktif belaka dan alasan kenapa nama seseorang tidak ditulis di buku kehidupan bukanlah Karena Tuhan terlalu sibuk. Akan tetapi hal ini mengingatkan kita bahwa sibuk bukanlah alasan untuk tidak saat teduh.
Saya pernah baca, dari cara kita menggunakan waktu dan uang kita, dapat dilihat apa prioritas kita sesungguhnya.
Kalau kita akan bertemu dengan orang yang penting mungkin sekali kita akan menuliskannya dalam agenda kita atau bahkan mengaktifkan reminder kita agar kita tidak lupa.
How about God? Doesn’t He deserve to have our time? Bukankah Dia pribadi paling penting? Atau Dia tidak lagi penting bagi kita? kita bisa jawab sendiri deh
Mungkin cerita ini hanya fiktif belaka dan alasan kenapa nama seseorang tidak ditulis di buku kehidupan bukanlah Karena Tuhan terlalu sibuk. Akan tetapi hal ini mengingatkan kita bahwa sibuk bukanlah alasan untuk tidak saat teduh.
Saya pernah baca, dari cara kita menggunakan waktu dan uang kita, dapat dilihat apa prioritas kita sesungguhnya.
Kalau kita akan bertemu dengan orang yang penting mungkin sekali kita akan menuliskannya dalam agenda kita atau bahkan mengaktifkan reminder kita agar kita tidak lupa.
How about God? Doesn’t He deserve to have our time? Bukankah Dia pribadi paling penting? Atau Dia tidak lagi penting bagi kita? kita bisa jawab sendiri deh
03 November 2006
No honesty no trust
Pada post sebelumnya saya menuliskan bahwa kejujuran saja tidak cukup. Kali ini saya ingin membahas sedikit mengenai kejujuran.
Even kejujuran saja tidak cukup, akan tetapi kejujuran adalah hal yang sangat krusial.
Bayangkan anda menjadi boss suatu perusahaan. Apakah anda tidak akan was-was kalau mempekerjakan seorang yang bertalenta serba bisa namun tidak jujur? Apakah anda akan mengadalkan dia mengerjakan perkerjaan-perkerjaan tertentu selama anda tidak ada di tempat? Saya rasa tidak. Mungkin anda akan mempekerjakan dia namun dalam pengawasan yang ketat atau bahkan kalau anda tidak mau membuang-buang energi untuk selalu menjagai dia, anda memilih untuk tidak mempekerjakan dia.
Atau anda adalah costumer suatu toko. Suatu hari anda menemukan kalau toko ini selalu memberikan kurang dari yang anda beli, even pelayanannya seramah apapun, rasanya anda tidak akan terus menerus membeli di toko tersebut.
Kejujuran adalah hal yang mendasar dari trust. Tanpa kejujuran, tidak akan ada trust.entah sebagaimana hebatnya kita dalam bekerja.
By the way… saya sedang membayangkan betapa indahnya negeri kita kalau kita semua terdiri dari orang-orang jujur, pekerja keras dan bertanggung jawab. :P
Even kejujuran saja tidak cukup, akan tetapi kejujuran adalah hal yang sangat krusial.
Bayangkan anda menjadi boss suatu perusahaan. Apakah anda tidak akan was-was kalau mempekerjakan seorang yang bertalenta serba bisa namun tidak jujur? Apakah anda akan mengadalkan dia mengerjakan perkerjaan-perkerjaan tertentu selama anda tidak ada di tempat? Saya rasa tidak. Mungkin anda akan mempekerjakan dia namun dalam pengawasan yang ketat atau bahkan kalau anda tidak mau membuang-buang energi untuk selalu menjagai dia, anda memilih untuk tidak mempekerjakan dia.
Atau anda adalah costumer suatu toko. Suatu hari anda menemukan kalau toko ini selalu memberikan kurang dari yang anda beli, even pelayanannya seramah apapun, rasanya anda tidak akan terus menerus membeli di toko tersebut.
Kejujuran adalah hal yang mendasar dari trust. Tanpa kejujuran, tidak akan ada trust.entah sebagaimana hebatnya kita dalam bekerja.
By the way… saya sedang membayangkan betapa indahnya negeri kita kalau kita semua terdiri dari orang-orang jujur, pekerja keras dan bertanggung jawab. :P
29 October 2006
Ketika Kejujuran Saja Tidak Cukup
Beberapa waktu yang lalu saya membaca koran kompas. Lupa juga sih tanggal berapa korannya, tapi ada artikel bagus yang berjudul “Trust”. Trust yang dimaksud disini adalah trust dalam pekerjaan, bagaimana mendapatkan trust dari boss ataupun custumer kita di tempat kerja.
Kadang kita yang berpikir yang paling penting adalah bagaimana berlaku jujur itu sudah cukup untuk mendapatkan kepercayaan Well, itu penting juga dan menjadi awal membangun kepercayaan itu sendiri, akan tetapi kejujuran saja tidak cukup.
Kepercayaan yang dimaksud disini adalah bisa diandalkan. Apakah dengan kejujuran saja kita bisa diandalkan dalam mengerjakan perkerjaan tertentu? Rasanya tidak. Kepercayaan ini juga dibangun dengan proses, yang mana hanya dapat didapat dengan kerja keras, konsistensi dan tanggung jawab. Bagaimana menurut anda?
Kadang kita yang berpikir yang paling penting adalah bagaimana berlaku jujur itu sudah cukup untuk mendapatkan kepercayaan Well, itu penting juga dan menjadi awal membangun kepercayaan itu sendiri, akan tetapi kejujuran saja tidak cukup.
Kepercayaan yang dimaksud disini adalah bisa diandalkan. Apakah dengan kejujuran saja kita bisa diandalkan dalam mengerjakan perkerjaan tertentu? Rasanya tidak. Kepercayaan ini juga dibangun dengan proses, yang mana hanya dapat didapat dengan kerja keras, konsistensi dan tanggung jawab. Bagaimana menurut anda?
Labels:
Countable,
Honesty,
Kepercayaan,
Kerja,
Konsistensi,
Proses,
Tanggung Jawab
17 October 2006
Thanks!!!
Now, I can face the problems with peace…
Thanks to the Word of God, that teaches me
1. to give my right first
2. to look at the focus… What are the more important things to save or to achieve
3. to ask and hear advices…
And than…. Thanks to the problem itself.
… "u r going to make me stronger and wiser!!" Hehe.. ;)
I can do all things through Christ who strengthen me….
All things work together for good to those who love God, to those who are called according to His purpose
Thanks to the Word of God, that teaches me
1. to give my right first
2. to look at the focus… What are the more important things to save or to achieve
3. to ask and hear advices…
And than…. Thanks to the problem itself.
… "u r going to make me stronger and wiser!!" Hehe.. ;)
I can do all things through Christ who strengthen me….
All things work together for good to those who love God, to those who are called according to His purpose
16 October 2006
Noel... noel...
14 October 2006
07 October 2006
One of the Marvels of Giving
Ada kalanya kita berbeban sangat berat. Salah satunya (tidak semua) karena kita terlalu banyak memikirkan diri sendiri. Masalah yang hanya sebesar bukit kecil bisa jadi kelihatan sebesar gunung Everest kalau kita menambahkan terlalu banyak memikirkan diri sendiri pada masalah tersebut.
Ada satu cara untuk menanggulanginya, yaitu dengan memfokuskan pada memberi. Mengapa demikian? Karena memberi membuat kita lebih memperhatikan orang lain dan tidak terlalu fokus dengan diri sendiri. Hal ini akan mengurangi rasa terlalu memikirkan diri sendiri. Sehingga kita bisa melihat ukuran sebenarnya dari masalah yang kita hadapi.
That is one of the marvels of giving
Ada satu cara untuk menanggulanginya, yaitu dengan memfokuskan pada memberi. Mengapa demikian? Karena memberi membuat kita lebih memperhatikan orang lain dan tidak terlalu fokus dengan diri sendiri. Hal ini akan mengurangi rasa terlalu memikirkan diri sendiri. Sehingga kita bisa melihat ukuran sebenarnya dari masalah yang kita hadapi.
That is one of the marvels of giving
Subscribe to:
Posts (Atom)
